Pribadi Matahari

Catatan Kaki Kehidupan Pembelajar

Sepenting Apakah Impian yang Kita Tetapkan?

Sebagian dari kita sering mengikuti training-training motivasi. Biasanya dalam memotivasi peserta untuk mencapai impian, Trainernya meminta para peserta menulis 10 impian, 50 impian, bahkan 100 impian. Dan mungkin sahabat juga mengalami, tidak semuanya tercapai. Bahkan tidak semuanya benar-benar diusahakan. Tidak berbeda dengan setiap resolusi akhir tahun yang kita buat, ternyata mungkin sebagian kecil saja yang kita perjuangkan sehingga sekecil itulah jumlah yang terwujud.

sepenting_apakah_impian_yang_kita_tetapkan

Apa yang membuat kita menjadi “loyo” akan impian-impian yang sudah kita tulis sendiri?

Untuk menjawab itu, mari cek bersama, sebagian kecil impian yang benar-benar tercapai atau sangat diperjuangkan, dengan impian-impian lainnya di kertas atau benak Anda. Apa yang berbeda diantara mereka? Jika direnungkan lebih dalam, Anda, saya, dan kita semua akan menemukan sendiri jawabannya. Ya, antara satu dengan yang lain memiliki kekuatan yang berbeda. Dari sana, akan berujung pada sebuah pertanyaan…

“Seberapa penting impian-impian ini buat saya?”

Apa impian itu tidak penting? bukan ke situ arahnya. Memiliki impian untuk diperjuangkan itu penting. Impian memberi kita bensin untuk bergerak, dan arah jalan untuk dituju. Tapi, apakah impian yang sudah kita tetapkan, memang benar-benar penting buat kita? apakah puluhan bahkan ratusan impian di atas kertas yang telah kita tulis, semuanya adalah hal yang penting dalam hidup kita? atau jika saya ganti dengan pertanyaan lebih tegas, berapa impian yang benar-benar penting dari seluruh impian yang pernah kita tulis?

Jika memang banyak diantaranya tidak penting, maka wajar jika banyak juga yang terlewat tanpa adanya upaya dan usaha.

Lalu, apa ukuran “penting” di sini? di sinilah kita sering terjebak. Selama ini, banyak orang memberikan standard “penting” berdasarkan tren. Kala banyak bermunculan motivasi tentang membangun kekayaan, jumlah kekayaan-lah standard “penting” itu. Namun ternyata jauh di lubuk hati, ia sendiri belum terlalu paham mengapa itu benar-benar penting. Ia hanya mengikuti emosi dan meriahnya motivasi membangun kekayaan, lalu malu pada teman-temannya atau sesama peserta training jika harus mundur dari motivasi itu. Akibatnya, ia bergerak tanpa ruh. Ia kejar kekayaan tanpa faham betul apa pentingnya kekayaan itu bagi dia. Saat tubuhnya bergerak mencari sumber-sumber kekayaan, hati kecilnya berkata, “nggak kaya sebenarnya juga nggak apa-apa kok.”

Bisa jadi memang kekayaan adalah sesuatu yang penting bagi seseorang, tapi bisa juga bukan kekayaan yang sesungguhnya penting. Misalnya, ada dua orang, sebut saja si A dan si B. A memiliki impian memiliki mobil BMW seri terbaru. Harganya tahu sendiri, ratusan juta hampir menyentuh angka milyar per unitnya. Untuk BMW 1 – Series Coupe 135i saja harganya mencapai Rp 859.000.000,- (per bulan September 2013). Berbeda dengan B, impiannya “hanya” ingin memiliki mobil Toyota Avanza, bekas pun tak masalah. Uang yang dibutuhkan B sekitar 40 juta untuk membeli Avanza yang sudah dipakai sekitar dua setengah tahun, dengan kondisi masih bagus dan terawat. Jika dipikir-pikir, mana garis finish yang lebih menggiurkan? jika ukurannya kekayaan, tentu BMW. Tapi, ternyata hukum “semakin besar nilai materi dari impian, semakin besar energi” tidak selalu berlaku.

sepenting-apakah-impian-yang-kita-tetapkan

Mari kita cek motif masing-masing:

Si A adalah seorang bujangan. Ia masih hidup sendiri di sebuah rumah sederhana. Kemana-mana ia naik motor sebagai kendaraan pribadinya. Bagi dia, motor satu sudah cukup untuk menemaninya menyelesaikan aktivitas dan pekerjaan sehari-hari. Ia semangat ingin BMW setelah dikompori temannya bahwa orang sukses seharusnya terlihat dari rumah, mobil, pakaian, dsb (sebuah prinsip yang saya pribadi sebagai penulis, tidak selalu setuju).

Si B adalah seorang kepala rumah tangga di sebuah rumah sederhana. Ia memiliki satu istri dan 3 orang anak yang sudah memasuki masa sekolah mulai dari SD kelas 5 (anak sulung), hingga TK (anak bungsu). Anaknya bersekolah pada jarak berdekatan, sehingga B hanya perlu mengantar sekali jalan. Selama ini B hanya memiliki satu motor. Rumahnya jauh dari sekolah anak-anaknya, juga tempat kerja, dan tak terjangkau kendaraan umum. Sehari-hari, B-lah yang mengantar anak-anaknya ke sekolah, dengan satu motor. Artinya, motor itu ditunggangi 4 orang sekaligus! dengan jarak rumah ke sekolah jauh, dan jalanan yang seringkali tidak rata, ditambah hujan yang sering turun deras, B sangat khawatir dengan keselamatan anak-anaknya. Bisa jadi karena jalan licin, motornya terpeleset dan anak-anaknya terluka. Kala hujan, anak-anaknya bisa sakit dan terhambat sekolahnya. Maka B membutuhkan mobil, bekas pun tak apa, asalkan anak-anaknya mampu berangkat sekolah dengan aman, dan terhindar dari peluang bahaya.

Menurut sahabat, apakah A, atau B, yang benar-benar berjuang mewujudkan impiannya? Semua tentu dapat menjawabnya.

Maka, saat kita semua punya impian, cek! apakah impian kita benar-benar penting bagi diri kita? Jangan sampai kita terlalu fokus pada impian-impian semu, dan sebenarnya tidak terlalu penting. Dari sana, impian-impian yang sesungguhnya penting terabaikan. Akhirnya, kita kehabisan waktu untuk mewujudkan “impian orang lain” (akibat ikut tren, sebenarnya kita sekedar mengejar impian orang yang ‘dipaksakan’ pada diri kita) dan lupa mewujudkan impian penting kita.

Bagaimana cara mengeceknya? mudah saja. Tanyakan pada impian itu, “Jika tidak terwujud, bagaimana perasaan saya?”. Jika memang kita sedih, marah, dan merasa kehilangan, maka bisa jadi itu benar-benar impian kita. Jika jawaban jujur dalam diri mengatakan, “Sebenarnya nggak papa sih…. saya masih bisa mewujudkan yang lain”, maka hati-hati, dan segera coret dari daftar impian kita. Maka, fokuskan energi kita pada apa yang benar-benar kita inginkan. Dan kembali lagi, apa yang benar-benar kita inginkan itu, tidak selalu dalam bentuk kekayaan, dan tidak selalu terwujud lewat kekayaan. Lantas apa? tanyakanlah pada hati nurani….

Sekian sharing tentang impian. Yuk bangun impian sejati kita…. ^_^

Advertisements

Speaker Untuk Mengajar

speaker-untuk-mengajar

Ini bukan iklan speaker. Ini bukan dalam rangka menawarkan produk tertentu, meskipun foto di atas memampang merk dengan jelas. Lebih tepatnya, foto itu adalah speaker yang saya beli. Speaker portabel kecil untuk dibawa kemana-mana, khusus dibeli demi membantu proses mengajar selama menjalankan tugas saya sebagai dosen.

Mengajar kok butuh speaker? karena proses belajar di kelas saya memang membutuhkan unsur suara keras. Saya sering mengiringi proses belajar dengan musik. Bahkan saya ajak mahasiswa menonton film secara penuh selama sesi belajar. Filmnya tentu berhubungan dengan materi bahasan hari itu.

Sebelumnya, sebelum saya membeli speaker ini, mahasiswa selalu saya minta untuk mengambil speaker besar yang ada di ruang administrasi akademik. Ukurannya besar untuk dibawa satu orang saja. Cukup repot memang, meski mahasiswa rela dan bersedia melakukannya. Namun sejak dua pekan lalu, kabel speaker itu hilang entah kemana. Speaker milik universitas tak lagi bisa dipakai. Mungkin ini memang pelajaran dari-Nya untuk mendorong saya memiliki speaker sendiri. Setelah kejadian kabel hilang tersebut, memang baru terpikir di benak saya untuk membeli speaker mungil merah-hitam pada foto di atas.

Hari ini, saat tulisan ini dibuat, speaker tersebut sedang dipakai untuk membantu mahasiswa menikmati film yang sedang disajikan.

speaker-untuk_mengajar

Para mahasiswa sedang asyik menonton. Speaker ini kecil-kecil cabe rawit. Mampu mencakup seisi kelas yang cukup besar. Ukurannya yang kecil membuat hemat tempat untuk tempat saya beraksi dalam mengajar. Tampaknya, mencakup kebutuhan mengajar yang semakin kompleks, dan perkembangan metode belajar yang juga semakin mutakhir, unsur suara selain dari guru atau dosen tak dapat diabaikan lagi bila ingin proses belajar menjadi lebih menyenangkan bagi mahasiswa. Maka, saya sangat sarankan setiap pengajar di manapun memilikinya (jadi promosi dehhhhh, asli saya nggak dibayar. Huehehehe).

speaker_untuk_mengajar

Hari ini topik kuliah Personal Development saya, membahas tentang arah hidup. Mau dibawa kemana sesungguhnya hidup mereka. Untuk membahas lebih dalam, saya sajikan film “UP”. Mahasiswa pun menikmatinya. Congratz buat sang speaker telah menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab ^_^

Adab Terhadap Guru

adab-terhadap-guru

Dalam hidup, kita punya guru. Untuk belajar dan berkembang, kita butuh guru. Guru adalah sosok yang tidak bisa dilepaskan saat menginginkan hidup kita selalu naik kualitasnya.

Guru paling dekat dengan kita mungkin adalah guru-guru di sekolah dulu, atau dosen di kampus tempat kita kuliah. Namun, guru di sini tidak terbatas pada pendidikan formal saja. Dalam kehidupan sehari-hari, kita punya guru lain. Contoh, saat ingin belajar melakukan yang terbaik di bidang pekerjaan tertentu, kita mencari sosok yang telah berhasil melakukannya, dan dijadikan guru. Saat ingin berbisnis, seseorang cenderung mencari guru bisnis untuk tempat ia belajar. Dalam kehidupan secara umum, kita mungkin punya sosok guru kehidupan yang kita kagumi dan kita tiru langkah-langkahnya. Semua itu guru kita.

Satu fenomena menarik adalah, mengapa ada beberapa orang yang berguru kepada satu orang, namun menuai hasil berbeda? diantaranya, benar-benar berhasil meraih ilmu secara maksimal dan mengalami perubahan, sisanya tidak meraih hasil serupa. Di sekolah atau kuliah pun begitu, sebagian berhasil meraih ilmunya, dan sebagian tidak. Padahal sang guru mengajarkan ilmu yang sama, dengan metode yang mungkin sama. Ternyata, kunci keberhasilan kita dalam menimba ilmu kepada seorang guru, bukan hanya ditentukan oleh kualitas guru. Hal yang lebih penting lagi, adalah bagaimana sikap kita terhadap guru tersebut.

Sikap kita terhadap guru, menentukan keberkahan ilmu itu sendiri. Saat seorang guru dekat dan mencintai kita, maka semua ilmu yang ada akan mengalir deras tak terbendung. Saya pribadi dan teman-teman saya telah merasakannya langsung. Saya punya beberapa guru, diantaranya dosen saya, guru menulis, guru kehidupan, guru training, dan sebagainya. Dalam bersikap kepada guru, murid perlu “mengabdi”, dalam arti siap mengikhlaskan dirinya untuk belajar sepenuhnya. Maka, menilai benar dan salah terhadap sikap guru, mungkin sudah bukan lagi sebuah agenda yang layak dipikirkan.

Beberapa adab terhadap guru, siapapun dimana kita belajar ilmu secara khusus kepadanya:

1. Guru didatangi, bukan mendatangi. Temui guru di tempat kediamannya atau tempat yang beliau tentukan meskipun jauh. Jikalau memang harus mengeluarkan biaya transportasi besar, maka keluarkanlah.

2. Turuti perintah guru, entah berhubungan langsung dengan ilmu yang ingin kita pelajari atau tidak. Ingat, keberkahan ilmu ada pada ridho guru. Jika perintah guru menyalahi syari’at, maka tolaklah dengan lembut tanpa menyakiti. Jika tidak menyalahi syari’at, entah kita merasa berguna atau tidak (bagi kita), lakukan saja.

3. Jaga perasaan guru, jangan sampai menyakiti hatinya, meski sang guru telah menyakiti kita. Kala tak sengaja menyakiti, minta maaf segera, meski mungkin kita menganggap guru kitalah yang memulai duluan.

4. Suatu saat kita akan menemukan bahwa guru kita punya kelemahan. Ingat, kita takkan pernah menemukan guru yang sempurna. Maka, maklumi segala kekurangan guru kita.

5. Saat guru menegur atau memarahi karena menganggap kita salah, terimalah nasehat dan evaluasi itu sepenuhnya. Hindari sikap mencari-cari alasan atau pembenaran, meskipun sebenarnya bukan sepenuhnya salah kita.

6. Hindari membanding-bandingkan guru kita yang satu dengan yang lain.

Bukan hal mudah memang, terutama kala kita sudah terbiasa menjadikan guru sebagai bahan pembicaraan atau gosip. Terkadang hanya karena kurang terima atas sikap guru, maka menyebar dari mulut ke mulut mengenai keburukannya. Padahal, menyebarkan keburukan orang lain itu adalah perbuatan tercela, apalagi guru!

“Lalu bagaimana jika memang guru kita kurang baik dalam memberi ilmu? bukankah harus dievaluasi?”

Benar, memang setiap guru, guru apapun itu, tetap perlu evaluasi. Namun bukanlah tugas murid untuk mengevaluasi guru. Biarkan guru dari guru kita yang mengevaluasi. Tugas seorang murid adalah belajar, belajar, dan belajar sepenuhnya. Biarkan fokus kita hanya untuk belajar, bukan yang lain.

Selamat berguru ^_^

Orang Berilmu Akan Menghargai Perbedaan

orang-berilmu-akan-menghargai-perbedaan

Tidak bisa dipungkiri, salah satu penentu kualitas hidup seseorang adalah ilmu yang dimiliki. Ilmu menjaga agar kehidupan selalu berjalan pada koridor yang tepat. Melakukan sesuatu dengan niat baik tanpa didasari ilmu, bisa berakibat kerusakan. Maka, setiap amal perbuatan harus didasari oleh ilmu yang memadai.

Saat seseorang banyak menimba ilmu, maka orang tersebut akan mencari dari berbagai sumber buku, berbagai sumber guru, dan berbagai sumber referensi saja. Artinya, jika seseorang memang haus ilmu, ia takkan puas hanya mencari dari satu sumber. Konsekuensi akibat menimba ilmu dari banyak sumber, maka akan ditemukan berbagai versi ilmu yang membahas satu hal dengan cara berbeda, bahkan bertolak belakang sekalipun.

Fenomena ini membentuk cara pandang bahwa tidak ada kebenaran yang benar-benar mutlak selama hal itu masih melalui cara pandang manusia. Memang benar, yang mutlak kebenarannya adalah Al-Qur’an. Namun kala dijelaskan lewat kacamata manusia, perbedaan pun tetap terjadi, sehingga ada beberapa ulama yang menafsirkan satu ayat dengan cara berbeda-beda.

Maka tidak heran, kualitas keilmuan juga akan menentukan kualitas perilaku seseorang. Orang berilmu, yang sudah belajar dari banyak sumber dan menemukan berbagai versi ilmu, akan menghargai setiap perbedaan pendapat. Bagi orang berilmu, setiap ada yang berbeda, maka itulah kesempatan untuk menemukan referensi baru dan menambah pengetahuannya. Orang berilmu takkan menganggap dirinya yang paling benar, dan openmind dengan keberagaman tersebut, karena memang sudah biasa mengolah perbedaan pendapat dari para Guru.

Berbeda dengan orang yang baru sedikit belajar. Jumlah referensi sedikit, menjadikan cara pandangnya terbatas, dan hanya memandang kebenaran dari sudut pandang yang sempit. Akibatnya, saat seseorang kurang dalam menambah ilmu, ia cenderung cepat bangga dengan sedikit ilmunya, dan begitu mudah menyalahkan pihak lain yang berbeda pendapat dengannya. Orang seperti ini, ibarat bersikeras mengatakan bahwa makanan yang ia makan paling enak, bukan karena sudah dibandingkan dengan banyak makanan, melainkan karena memang baru makanan itu yang pernah dinikmatinya.

Orang yang kurang ilmu akan mudah dibelokkan oleh satu pendapat. Dalam kasus beberapa oknum dalam gerakan Islam tertentu, terkadang ada orang yang berani menyalahkan pendapat ustadz lain, dengan menukil pendapat-pendapat dari ustadz tempat ia mengaji. Padahal dua ustadz tersebut sama-sama orang berilmu dan kompeten. Atau mungkin perbedaan dalam ilmu kesehatan, antara ilmu kedokteran dan ilmu herbal. Terkadang ada seorang dokter yang langsung menganggap ilmu herbal tidak efektif, atau bahkan ada ahli herbal yang berani mengatakan bahwa kita tak perlu lagi ke dokter. Padahal sang dokter tersebut tak pernah belajar ilmu herbal, dan sang herbalis tak pernah benar-benar tahu bagaimana prosedur pengobatan kedokteran.

Mari terus perdalam dan perbanyak ilmu kita. Buka pikiran kita untuk mau lebih banyak mendengar daripada menuntut. Rendahkan hati untuk mau belajar dari orang lain. Carilah banyak sumber referensi, dan belajarlah dari sebanyak mungkin guru. Kita akan menemukan indahnya kekayaan ilmu dari Allah, dan menjadikan kita menjadi lebih mudah bersikap fleksibel dan adaptif dalam upaya mencapai tujuan yang kita inginkan.

Kala “Passion” Menghambat Pergerakan

Saat ini kata “passion” begitu menjamur di sebagian kalangan praktisi pengembangan diri. Praktisi-praktisi tersebut berlomba mengajak masyarakat untuk hidup mengikuti passion hidup melalui berbagai media, baik buku, maupun training. Hal ini merupakan langkah mulia, karena membantu banyak orang menjalani profesi dan hidup sesuai dengan potensi dan sumber daya terbaik yang dimiliki, sehingga kehidupan dapat dijalani dengan maksimal dan setiap orang dapat mengarungi jatuh bangun proses perjuangan dengan bahagia.

kala-passion-menghambat-pergerakan

Namun, apakah semua berjalan sesuai yang diharapkan?

Ternyata proses ini menimbulkan konsekuensi lain. Seringkali himbauan untuk mengikuti passion tidak tersampaikan dengan lengkap. Passion sekedar diartikan sebagai apa yang dilakukan dengan hasrat besar. Kata “hasrat” sendiri ukurannya tidak jelas. Masyarakat menjadi bias antara passion dengan sekedar kesukaan.

Dari pemahaman yang tidak lengkap ini, sebagian orang menjadi sangat mudah untuk menyatakan, “Sepertinya saya tidak passion di bidang ini…”, dan justru menjadi tidak semangat dalam menjalaninya. Mereka terbelenggu oleh kata “bukan passion“, yang justru menurunkan kualitas kinerja mereka sendiri. Padahal, sebelum menemukan kata passion, mereka mau engerjakan tugas-tugas mereka dengan maksimal.

Jika kita coba cek lebih dalam, apa benar mereka tidak passion di sana? atau sekedar tidak suka? atau bahkan karena merasa stress menjalaninya? atau mungkin merasa pekerjaannya sulit diselesaikan? Sebagai perenungan, seandainya kita memang di bidang passion kita dan menjalaninya dengan serius serta totalitas, apakah kita tidak akan mengalami kesulitan? apakah semuanya akan mudah? apakah kita tidak akan bertemu dengan stress?

Saya bukan penentang paham passion. Saya hanya memberikan pandangan dari arah lain. Kita perlu menyadari bersama, Indonesia masih begitu mengakar dengan budaya instan. Kala kita menggembar-gemborkan “Ikuti passion Anda!” karena menawarkan kebahagiaannya saja, tentu bisa laku karena sebagian besar masyarakat Indonesia menginginkan jalan yang enak dan mudah saja. Pada akhirnya, mereka begitu mudah memutuskan “ini passion saya”, namun kala menemukan kesulitan, dengan mudahnya juga mengatakan “sepertinya ini bukan passion saya…”.

Hasilnya? inkonsistensi kinerja, dimana ujung-ujungnya menyalahkan lingkungan. Saat kinerja buruk, berkata, “Boss saya sih tidak memberikan kerja sesuai passion saya!”. Atau mungkin passion itu sendiri menjadi salah, dengan mengatakan, “Wajar dong saya nggak maksimal, ini bukan passion saya”, seolah menjadi pembenaran atas tidak amanahnya diri sendiri.

Lalu, apakah mencari pekerjaan sesuai passion itu salah?

Tidak sama sekali. Tapi kita perlu benar-benar paham dulu, passion yang dimaksud itu seperti apa? dari mana kita bisa memastikan itu passion kita atau bukan? Saya pribadi berpendapat, disarikan dari berbagai literatur dan pendapat, bahwa passion itu perpaduan antara blueprint dan pengalaman. Manusia lahir dengan blueprint tertentu, warisan dari orang tua. Namun setelah lahir, manusia hidup dibentuk oleh lingkungannya. Dikarenakan butuh adanya unsur pengalaman, maka kita tak bisa begitu saja memastikan suatu bidang atau aktivitas itu passion kita atau bukan, sebelum kita benar-benar sudah lama menjalaninya, sudah merasakan manis pahitnya, jatuh bangunnya, dan sebagainya.

Passion pun adalah sesuatu yang bisa dibentuk. Pengaruh blueprint sangatlah kecil dalam pembentukan karakter, kepribadian, hingga passion. Artinya, passion itu sendiri adalah pilihan. Toh, sebelum benar-benar menjalani cukup lama, kita tidak bisa benar-benar memastikan apakah itu passion kita atau bukan. Maka sekarang, sesuaikan segalanya dengan kebutuhan. Apa yang sesungguhnya sedang kita butuhkan untuk dikembangkan. Bisa jadi kita merasa tidak passion dalam menulis, tapi profesi dan pekerjaan kita membutuhkan kemampuan menulis. Maka berlatihlah. Bisa jadi kita merasa (ingat, baru “merasa”), bahwa berbicara di depan umum bukan passion kita, namun saat didaulat menjadi pemimpin, maka hal itu mau tidak mau harus kita latih. Daripada berusaha mencari pekerjaan yang kita cintai, saya lebih cenderung setuju dengan mencintai apa yang kita kerjakan.

Selamat berkarya sahabat semua ^_^

Makelar Rezeki

Makelar Rezeki adalah buku yang sedang membuatku jatuh hati saat ini. Buku ini tidak terlalu tebal, easyreading, dan ringan, namun sangat berbobot manfaatnya. Ditulis oleh salah seorang guru saya dalam dunia Training, Jamil Azzaini (www.JamilAzzaini.com), sebuah nama besar yang menjadi jaminan bahwa buku ini bukanlah buku sembarangan.

Buku ini bukan sekedar menyajikan ilmu saja, namun juga mengajak dan mendorong pembaca untuk menjadi bagian dari barisan Makelar Rezeki. Apa maksudnya? Makelar Rezeki adalah orang-orang yang mampu menjadi penyalur rezeki bagi masyarakat sekitar. Rezeki ada banyak bentuknya, disingkat 4-ta yaitu Harta (materi), Tahta (kedudukan atau kewenangan), Kata (ilmu), dan Cinta (kasih sayang).

Bagaimana para Makelar Rezeki bisa melakukan perannya? bukankah masing-masing harus memenuhi rezeki pribadinya? Dalam buku ini ditekankan mengenai hukum kekekalan energi, dimana alam semesta memiliki jumlah energi yang tetap, hanya saja bisa berubah bentuk dari satu ke yang lain. Perubahan energi termasuk dalam apa yang kita lakukan sehari-hari. Jika kita senantiasa menebar energi positif, maka hal-hal positif akan kembali kepada kita. Begitu pula sebaliknya saat menebar energi negatif, hal-hal negatif juga yang akan kembali.

Tidak heran, para Makelar Rezeki sesungguhnya adalah orang yang tidak pernah kekurangan, karena selalu Allah cukupkan kebutuhannya. Allah beri balasan yang tidak hanya setimpal, namun lebih daripada setimpal.

Buku ini menjelaskan dari bagaimana Makelar Rezeki itu, keuntungannya, hingga cara-cara untuk menjadi Makelar Rezeki yang kuat dan istiqomah. Beberapa saat sebelum membeli buku Makelar Rezeki, Allah beri saya cobaan dengan berbagai masalah dalam kehidupan yang lebih berat dari biasanya, dan tidak bisa saya ceritakan di sini. Alhamdulillah, Allah beri jalan keluar melalui hidayah untuk membelinya, dan saya sangat terbantu dalam menyelesaikan masalah berat yang sedang saya alami dengan mengikuti petunjuk dan saran dari Jamil Azzaini melalui buku ini. Makelar Rezeki pun menjadi buku yang menemani saya setiap hari ke kampus sebelum habis membacanya.

Buku ini sangat recommended, silahkan beli di toko buku kesayangan Anda ^_^

Saat Tiga Bayi Sehat Presentasi

Perkenalkan… Foto di atas adalah Trio Bayi Sehat dari pascasarjana UPI program studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2011. Dari sebelah kiri ada Agus Sunarya, lalu Putri Ria Angelina, dan satu lagi sudah jelas, saya sendiri. Rambut saya agak acak-acakan, bukan berarti saya belum mandi ya. Hanya memang tidak merapikan saja sejak berangkat dari rumah, hehehe…

Trio bayi sehat dalam foto tersebut sedang presentasi pada salah satu mata kuliah kami, Pengembangan Profesi Konseling. Berhubung kondisi kami sebelum presentasi cukup terkuras karena Kang Agus dan Mbak Putri yang ngelembur tugas, serta Saya yang baru sampai rumah dengan perjalanan darat dari Lampung dua jam sebelumnya, maka maklumi saja jika muka kami aneh-aneh…

Salah satu teman kelas kami iseng mengambil foto ini diam-diam di tengah presentasi kami, lalu mem-postingnya di Facebook. Maka, saya pun tidak boleh kalah iseng dengan mem-posting ulang beserta penjelasan ini di blog pribadi. Semoga menghibur pembaca sekalian ^_^

Foto Bareng Jurnal Bimbingan dan Konseling

Bandar Lampung, 10 Maret 2012

Foto ini diambil pada kunjungan saya ke Bandar Lampung untuk urusan proyek Training. Waktu malam yang kosong kumanfaatkan bersama rekan satu tim dan teman-teman yang lain untuk jalan-jalan ke Tugu Adipura, yang dihias khas gajah dengan bola di kakinya. Provinsi Bandar Lampung memang terkenal dengan Waikambas, sekolah gajah yang melatih binatang besar tersebut untuk pintar beratraksi dan beraktivitas, salah satunya menggiring bola layaknya pemain sepak bola.

Kami berfoto bersama dan bernarsis ria masing-masing. Kalau yang lain hanya menampilkan diri sendiri, saya secara khusus membawa Jurnal Bimbingan dan Konseling yang sengaja kubawa ke Lampung untuk mengisi waktu luang dengan membaca. Tidak ada maksud lain kecuali menunjukkan kecintaanku pada kuliah yang kujalani sekarang dan juga dunia pendidikan secara umum, serta menjadikan foto ini unik (kata saya).

Sampai di Bandung hari ini (Senin) pukul 5 Subuh, istirahat pun tidak bisa terlalu lama karena jam 7 pagi sudah harus masuk kuliah seperti sedia kala. Meski capek, kuliah jalan teruzzzz….. Keep Fight!

Mengapa Menulis Jadi Sulit?

Apakah benar menulis itu sulit?

Mungkin bagi sebagian orang yang suka menulis, judul ini menjadi aneh. “Kata siapa menulis itu sulit???”

Memang betul, bagi sekelompok masyarakat, menulis itu begitu mudah. Tinggal rangkai ide, salurkan ke sistem motorik tangan untuk mengetik atau menulis di kertas, dan lakukan saja.

Tapi perlu diakui, sebagian dari masyarakat yang lain merasakan sulitnya melakukan proses tersebut. Mereka berpikir, merangkai ide dan sudah tahu akan menulis apa, tapi sulit menggerakkan tangan untuk mewujudkannya dalam rangkaian kata. Ada juga yang bingung mau mengeluarkan ide apa karena banyak ilmu di kepala namun masih sulit untuk mengolahnya menjadi ide baku. Akhirnya, niat ingin menulis, namun hanya terpaku lama di depan komputer/kertas.

Mengapa Menulis Jadi Sulit? padahal sebenarnya mudah lho…

Saya akan membahasnya di sini, dengan ilmu dari Pak Bambang Trim ditambah ilmu saya yang terbatas. Semoga bermanfaat ^_^

Pelabuhan Merak, 9 Maret 2012 Pukul 22.50

Foto di atas adalah momen saat menunggu keberangkatan kapal menuju Lampung di Pelabuhan Merak, Banten. Saya bersama kawan-kawan Humanforce berangkat dengan mobil menempuh perjalanan darat setengah laut sambil menikmati setiap jengkal jalan yang dilewati. Di pelabuhan yang cukup panas dan membuat berkeringat, mobil berkesempatan berhenti cukup lama karena menunggu kapal berikutnya berangkat. Dalam kondisi itu, saya memilih membuka buku dan membacanya, sambil minta difoto sama teman sebelah…. beginilah jadi orang narsis, huehehehehehehehe………………….

Membaca adalah aktivitas yang tidak boleh lepas untuk bersanding dengan menulis. Membaca dan menulis ibarat sepasang suami istri di atas pelaminan dan mereka mengarungi rumah tangga bersama. Menulis tanpa membaca, akan membuat tulisan kita “kosong”. Ide pun terbatas, dan minim referensi pembahasaan dalam proses penulisan. Hal ini memang menjadi problem tersendiri pada masyarakat Indonesia yang indeks bacanya masih sangat rendah, mulai dari pemimpin negara sampai pemimpin rumah tangga, dari birokrat sampai teknokrat, dari mahasiswa sampai mahasiswi, bahkan aktivis sosial hingga aktivis dakwah. Republika tahun 2011 melaporkan bahwa indeks baca Indonesia hanya 0,001 atau 1 buku dibaca 1000 orang. Bandingkan dengan Singapura yang indeks bacanya 550 buku dibaca 100 orang.

Ingin menulis, tapi malas membaca, sangat wajar membuat diri terpaku lama di depan komputer/kertas memikirkan apa yang akan ditulis, atau bingung mau menulis apa serta bagaimana. Dengan membaca, bahan informasi di otak kita bertambah. Membaca berperan dalam menambah wawasan sehingga pembahasan dalam tulisan kita dapat mencakup orang banyak dan berbagai kalangan. Tidak hanya itu, kita pun mendapat contoh-contoh bagaimana gaya menulis yang baik. Pada awalnya, bisa jadi kita menulis mengikuti gaya tertentu. Dari mencoba berbagai gaya, akhirnya kita akan menemukan cara menulis yang pas sesuai khas kita.

Ada kalanya kita sudah biasa menulis tapi tetap tidak suka rajin membaca. Akibatnya, tulisan kita minim referensi. Menulis tanpa referensi yang cukup akan membuat tulisan kita menjadi sekedar “perenungan” pribadi. Jika keperluannya hanya untuk diary pribadi sih tidak masalah. Namun jika kita publikasikan, tentu menyulitkan orang yang membacanya. Pembaca dipaksa 100 % merenung mengikuti maunya kita. Jika kita orang terkenal seperti Mario Teguh, orang akan menerimanya. Tapi jika kita belum menjadi siapa-siapa, orang pun akan bertanya, “siapa elo????”

Kesimpulannya, jika Anda ingin dapat menulis secara konsisten, maka harus membaca secara konsisten juga. Biasakan diri Anda dengan buku dan literatur sehingga referensi yang berlaku umum serta ilmu yang bersifat luas. Membaca dan menulis pun akan menjadi aktivitas yang menyenangkan kala kita membiasakannya.

Komitmenkan untuk membaca buku setiap hari. Jika Anda kesulitan untuk rutin membaca buku karena tidak biasa, dapat mengikuti Kiat Sukses Gemar Membaca yang saya tulis di web resmi saya www.SuryaKresnanda.com

Selamat berlatih ^_^

Ayo! jangan mau kalah sama anak ini!

Mengapa Menulis Itu Asyik?

Menulis adalah salah satu aktivitas paling efektif dalam mengikat ilmu. Bagaimana tidak, dalam menulis kita dituntut memutar otak dan merangkai ide. Dengan menulis juga, buah pikiran terabadikan, sehingga beresiko dibaca orang lain. Hal ini membuat seorang penulis tidak sekedar merangkai kata, melainkan berpikir bagaimana reaksi pembaca saat menikmati kalimat demi kalimat yang digoreskannya baik di atas kertas maupun di layar komputer.

Saya awalnya berpikir bahwa menulis itu tidak ada asyiknya sama sekali. Sudah susah-susah menulis, belum tentu orang lain mau membacanya. Kalaupun orang lain membaca, belum tentu diapresiasi. Diingat pun tidak ada jaminan. Maka saya pun lebih senang beraktivitas ngomong dan memaparkan ide lewat pendapat langsung dibandingkan menulis.

Suatu hari, saya bertemu dengan seorang Guru Menulis bernama Bambang Trim. Beliau adalah mantan direktur MQS Publishing di era kejayaan Daarut Tauhiid dahulu. Setelah di MQS, beliau memimpin Salamadani yang mengeluarkan buku Api Sejarah 1 dan 2. Beliau juga berpengalaman membangun penerbit Tiga Serangkai hingga menjadi berubah seperti sekarang kala beliau menjabat sebagai General Manager di sana. Kini, beliau mandiri dengan usaha Publishing Service-nya. Pak Bambang mengajarkan kepada saya bagaimana menulis dapat mengubah pemikiran, pergerakan, bahkan mengubah dunia. Ketertarikan saya untuk menulis mulai muncul.

Pak Bambang bukan sekedar mengompori. Beliau juga membimbing saya secara serius untuk menghasilkan naskah yang diterbitkan menjadi buku. Saat artikel ini ditulis, naskah saya sedang dalam proses editing di tangan beliau (mohon do’anya agar lancar hingga terbit ya ^_^). Saya pun mengalokasikan waktu untuk bersilaturahim ke kantor beliau tiap seminggu sekali, belajar langsung bagaimana menulis. Meski awalnya berat, ternyata saya merasakan ada yang berubah dari pola pikir, ide-ide, serta ilmu di kepala saya selama ini. Kalau biasanya informasi di otak saya ada banyak dan berserakan, dengan menuliskannya saya merasakan informasi itu tersusun rapi ke dalam folder-folder khusus. Ide-ide baru pun bermunculan dari hasil perpaduan sekian ide lama yang ada, dan hal ini membangun kreativitas. Dengan menulis, saya juga jadi lebih senang membaca.

Tidak semua dari kita harus menjadi penulis profesional, namun apapun profesi kita, menulis tetap perlu dilakukan. Minimal, kita menulis catatan harian, kisah hidup yang menarik, atau sesuatu yang kita kuasai. Tujuan utama bukanlah untuk orang lain, melainkan diri kita sendiri. Minimal ide kita abadi, tidak menguap. Ilmu yang sudah dipelajari pun menjadi semakin dalam dan kuat.

Mari kita rajin menulis setiap hari, entah itu di blog, website, buku, atau media lainnya.

Selamat menulis kawan ^_^

Post Navigation