Sepenting Apakah Impian yang Kita Tetapkan?
Sebagian dari kita sering mengikuti training-training motivasi. Biasanya dalam memotivasi peserta untuk mencapai impian, Trainernya meminta para peserta menulis 10 impian, 50 impian, bahkan 100 impian. Dan mungkin sahabat juga mengalami, tidak semuanya tercapai. Bahkan tidak semuanya benar-benar diusahakan. Tidak berbeda dengan setiap resolusi akhir tahun yang kita buat, ternyata mungkin sebagian kecil saja yang kita perjuangkan sehingga sekecil itulah jumlah yang terwujud.
Apa yang membuat kita menjadi “loyo” akan impian-impian yang sudah kita tulis sendiri?
Untuk menjawab itu, mari cek bersama, sebagian kecil impian yang benar-benar tercapai atau sangat diperjuangkan, dengan impian-impian lainnya di kertas atau benak Anda. Apa yang berbeda diantara mereka? Jika direnungkan lebih dalam, Anda, saya, dan kita semua akan menemukan sendiri jawabannya. Ya, antara satu dengan yang lain memiliki kekuatan yang berbeda. Dari sana, akan berujung pada sebuah pertanyaan…
“Seberapa penting impian-impian ini buat saya?”
Apa impian itu tidak penting? bukan ke situ arahnya. Memiliki impian untuk diperjuangkan itu penting. Impian memberi kita bensin untuk bergerak, dan arah jalan untuk dituju. Tapi, apakah impian yang sudah kita tetapkan, memang benar-benar penting buat kita? apakah puluhan bahkan ratusan impian di atas kertas yang telah kita tulis, semuanya adalah hal yang penting dalam hidup kita? atau jika saya ganti dengan pertanyaan lebih tegas, berapa impian yang benar-benar penting dari seluruh impian yang pernah kita tulis?
Jika memang banyak diantaranya tidak penting, maka wajar jika banyak juga yang terlewat tanpa adanya upaya dan usaha.
Lalu, apa ukuran “penting” di sini? di sinilah kita sering terjebak. Selama ini, banyak orang memberikan standard “penting” berdasarkan tren. Kala banyak bermunculan motivasi tentang membangun kekayaan, jumlah kekayaan-lah standard “penting” itu. Namun ternyata jauh di lubuk hati, ia sendiri belum terlalu paham mengapa itu benar-benar penting. Ia hanya mengikuti emosi dan meriahnya motivasi membangun kekayaan, lalu malu pada teman-temannya atau sesama peserta training jika harus mundur dari motivasi itu. Akibatnya, ia bergerak tanpa ruh. Ia kejar kekayaan tanpa faham betul apa pentingnya kekayaan itu bagi dia. Saat tubuhnya bergerak mencari sumber-sumber kekayaan, hati kecilnya berkata, “nggak kaya sebenarnya juga nggak apa-apa kok.”
Bisa jadi memang kekayaan adalah sesuatu yang penting bagi seseorang, tapi bisa juga bukan kekayaan yang sesungguhnya penting. Misalnya, ada dua orang, sebut saja si A dan si B. A memiliki impian memiliki mobil BMW seri terbaru. Harganya tahu sendiri, ratusan juta hampir menyentuh angka milyar per unitnya. Untuk BMW 1 – Series Coupe 135i saja harganya mencapai Rp 859.000.000,- (per bulan September 2013). Berbeda dengan B, impiannya “hanya” ingin memiliki mobil Toyota Avanza, bekas pun tak masalah. Uang yang dibutuhkan B sekitar 40 juta untuk membeli Avanza yang sudah dipakai sekitar dua setengah tahun, dengan kondisi masih bagus dan terawat. Jika dipikir-pikir, mana garis finish yang lebih menggiurkan? jika ukurannya kekayaan, tentu BMW. Tapi, ternyata hukum “semakin besar nilai materi dari impian, semakin besar energi” tidak selalu berlaku.
Mari kita cek motif masing-masing:
Si A adalah seorang bujangan. Ia masih hidup sendiri di sebuah rumah sederhana. Kemana-mana ia naik motor sebagai kendaraan pribadinya. Bagi dia, motor satu sudah cukup untuk menemaninya menyelesaikan aktivitas dan pekerjaan sehari-hari. Ia semangat ingin BMW setelah dikompori temannya bahwa orang sukses seharusnya terlihat dari rumah, mobil, pakaian, dsb (sebuah prinsip yang saya pribadi sebagai penulis, tidak selalu setuju).
Si B adalah seorang kepala rumah tangga di sebuah rumah sederhana. Ia memiliki satu istri dan 3 orang anak yang sudah memasuki masa sekolah mulai dari SD kelas 5 (anak sulung), hingga TK (anak bungsu). Anaknya bersekolah pada jarak berdekatan, sehingga B hanya perlu mengantar sekali jalan. Selama ini B hanya memiliki satu motor. Rumahnya jauh dari sekolah anak-anaknya, juga tempat kerja, dan tak terjangkau kendaraan umum. Sehari-hari, B-lah yang mengantar anak-anaknya ke sekolah, dengan satu motor. Artinya, motor itu ditunggangi 4 orang sekaligus! dengan jarak rumah ke sekolah jauh, dan jalanan yang seringkali tidak rata, ditambah hujan yang sering turun deras, B sangat khawatir dengan keselamatan anak-anaknya. Bisa jadi karena jalan licin, motornya terpeleset dan anak-anaknya terluka. Kala hujan, anak-anaknya bisa sakit dan terhambat sekolahnya. Maka B membutuhkan mobil, bekas pun tak apa, asalkan anak-anaknya mampu berangkat sekolah dengan aman, dan terhindar dari peluang bahaya.
Menurut sahabat, apakah A, atau B, yang benar-benar berjuang mewujudkan impiannya? Semua tentu dapat menjawabnya.
Maka, saat kita semua punya impian, cek! apakah impian kita benar-benar penting bagi diri kita? Jangan sampai kita terlalu fokus pada impian-impian semu, dan sebenarnya tidak terlalu penting. Dari sana, impian-impian yang sesungguhnya penting terabaikan. Akhirnya, kita kehabisan waktu untuk mewujudkan “impian orang lain” (akibat ikut tren, sebenarnya kita sekedar mengejar impian orang yang ‘dipaksakan’ pada diri kita) dan lupa mewujudkan impian penting kita.
Bagaimana cara mengeceknya? mudah saja. Tanyakan pada impian itu, “Jika tidak terwujud, bagaimana perasaan saya?”. Jika memang kita sedih, marah, dan merasa kehilangan, maka bisa jadi itu benar-benar impian kita. Jika jawaban jujur dalam diri mengatakan, “Sebenarnya nggak papa sih…. saya masih bisa mewujudkan yang lain”, maka hati-hati, dan segera coret dari daftar impian kita. Maka, fokuskan energi kita pada apa yang benar-benar kita inginkan. Dan kembali lagi, apa yang benar-benar kita inginkan itu, tidak selalu dalam bentuk kekayaan, dan tidak selalu terwujud lewat kekayaan. Lantas apa? tanyakanlah pada hati nurani….
Sekian sharing tentang impian. Yuk bangun impian sejati kita…. ^_^















